Archive | November, 2011

Sastra dan Semiotika-Kajian Intertextuality… When Literature Works Beyond…

29 Nov

Oke, semalam saya overheard alias nguping (hahahaha) pembicaraan dua orang kawan baru saya (sesama penyuka sajak @iedateddy dan @rizkytp ) di timeline saya. Mereka membicarakan tentang kesamaan dalam suatu karya sastra. Dan saya nyelonong dengan pede-nya bilang bahwa itu intertextuality. Dan sebagai pertanggung jawaban ceplosan saya, mesti dong menjelaskan apa itu intertextuality and both of them demand it (penasaran).

Sebenarnya, jujur dari hati yang terdalam saya pengen ngomongnya kemaren, tapi kemaren kepala dan badan udah ga sync sama sekali. So this is it, intertextuality.

Pemahaman ini jujur saya dapatkan dibangku perkuliahan…kelas semiotics and semiology, literary theories, dan cultural studies (yang dirasa sangaaaaaaaat kurang).  Saussure (seorang linguist ternama, ahli semiotics) menekankan adanya hubungan pada setiap simbol (simbol adalah segala sesuatu yang memiliki value, arti dan makna). Dan setiap simbol, secara sederhana akan saling mempengaruhi satu sama lain. Ini adalah dasar pemahaman intertextuality.

Di sini saya tidak akan berbicara panjang tentang structuralism, signified and signifiers. Karena jujur akan sangat rumit. Dan saya ingin menampilkan penjelasan yang sesederhana mungkin (yang saya pahami).

Saya mengartikan intertextuality, dalam artian sederhana adalah pembacaan text yang ditafsirkan oleh text lain. Dan ini menjadi dasar dari pernyataan “There is none original in this world.” Tidak ada yang namanya orisinalitas karena pada dasarnya segala sesuatu di pengaruhi satu sama lain. Seseorang bisa membuat sesuatu karena dia, sadar ataupun tidak sadar, dipengaruhi oleh hal lain ketika berinteraksi dengan dunia.

As quoted from Julia Kristeva,  “each word (text) is an intersection of words (texts) where at least one other word (text) can be read…any text is the absorption and transformation of another. The notion of intertextuality replaces that of intersubjectivity, and poetic language is read as at least double”-

Simbol, dalam hal ini kata, memiliki hubungan dengan minimal satu kata lainnya sehingga bisa dimengerti (berlaku untuk kata konotatif, denotatif dan lainnya). Kata memiliki sifat menyerap dan berubah sehingga membawa arti lainnya.

Hal ini pun memungkinkan sebuah text memiliki diksi yang sama. Text jika diartikan sebagai sesuatu yang dapat dibaca bisa dimaknai sebagai sejarah dan lainnya. Jadi intinya intertextuality adalah memahami arti dari kata dalam suatu kumpulan kata (text) dengan menyadur kepada text lainnya.

Saya buatkan contoh simple dari intertextualitas di sini (Ini yang paling saya ingat dan maaf pakai bahasa Inggris nih contohnya, ahahaha *gak mau ribet dot kom*:

 

 

The Negro Speaks of Rivers

 

I’ve known rivers:

I’ve known rivers ancient as the world and older than the

flow of human blood in human veins.

My soul has grown deep like the rivers.

I bathed in the Euphrates when dawns were young.

I built my hut near the Congo and it lulled me to sleep.

I looked upon the Nile and raised the pyramids above it.

I heard the singing of the Mississippi when Abe Lincoln

went down to New Orleans, and I’ve seen its muddy

bosom turn all golden in the sunset.

I’ve known rivers:

Ancient, dusky rivers.

My soul has grown deep like the rivers.

Saya tidak akan berbicara banyak. Hanya saja silakan intertextual dengan menggunakan bahan sejarah Amerika di abad 19-20… Dan anda akan memahami… Setiap kata yang saya bold memiliki intertextualitas juga… find it out and tell me… oke readers??
kalau ada hal lain yang mau ditanyakan atau ada yang mau menjawab intertextuality di atas kirimkan pesan anda ke mahadewishaleh@gmail.com

Many thanks readers….

See you when I write again
D

Workshop Puisi

27 Nov

Via: Partai Penulis Puisi (Doddi Ahmad F)

 

 

Undangan terbuka: bagi kawan-kawa n

yang sedang belajar menulis puisi dan

cerpen, atau sedang belajar

musikalisasi puisi, yang sekiranya

tertarik mengikuti workshop penulisan

puisi dan cerpen serta musikalisasi

puisi, dapat mendaftar melalui email:

ahmadun.yeha@gmail .com ,

bidangpm@yahoo .com, dan doddi@

situseni.com .

GRATIS, GRATIS

Workshop akan disampaikan pada

tanggal 8 Desember 2011, mulai pukul

09.00 – 14.00, …di Galeri Nasional

Indonesia, Jl. Medan Merdeka Timur

No. 14, Jakarta Pusat.

Dengan pemateri:

1. penulisan puisi: Acep Zamzam Noor,

Jamal D. Rahman, Diah Hadaning

2. Penulisan cerpen: Triyanto

Triwikromo, Joni Ariadinata, Zen Hai,

3. Musikalisasi puisi: Ana Sanggar

Matahari, Shobur Pur, Arie KPIN.

Catatan:

Selama workshop akan mendapatkan

makalah, konsumsi, dan uang saku

secukupnya.

Posted from WordPress for Android

Sushi (Recommended Resto and Table Manner)

21 Nov

Oke, ngaku deh saya kurang paham gimana caranya memakan makanan dari Jepang. Dan jujur buat saya yang pernah mempelajari Western Table Manner (US and UK), table manner versi Jepang ini membingungkan…

Setelah dibaca dengan sangat lama dan dari sumber yang tentunya banyak saya putuskan untuk merangkumnya di sini. (Ini versi saya karena saya bingung)

Oke, sushi makanan Jepang yang paling disukai dan mulai banyak variant nya di dunia ini.

Yang namanya Jepang namanya minum teh aja ada aturannya loh… Yah inilah aturan memakan sushi:

1. Ketika kita datang ke restoran Sushi (ex. Sushi Tei), bakal disambut sama pelayannya ngucapin salam kaya (Ohayoo, Konichiwa dll…) Ga usah dijawab… Cukup nyengir karena itu kewajiban mereka.
2. Begitu pas nyampe meja, pesan makanan. Jangan nanya, “What fresh today?” itu gak sopan karena dianggap merendahkan chef dan restorannya. Resto yang bagus sih gak akan mungkin nyiapin daging sushi yang gak segar. Paling ntar kalo dia nawarin sushi yah itu ambil aja.

3. Nah kita tinggal nunggu ampe dateng. Ketika makanan datang, buka sumpitnya dan jangan digosok-gosok! (Ga sopan karena dianggap merendahkan restoran, kalo ga ada rambut bambunya yang tersisa ga usah di bersihin. Kalo emang jelek sumpitnya bersihin pelan aja).

Ucapkan bissmillah sebelum makan itu wajib! Kalo makan sushi pakai ujung yang lebih tipis/kecil. Kalo ngambil sushi pake ujung yang lebih besar (di balik, biar ludahnya ga nyampur)

4. Ada yang namanya kecap (asin dan manis), kecap ini cukup kamu tuang ke wadah kecil (Boleh dicampur, tapi jangan banyak-banyak karena dianggap pemborosan. Kalau kurang tinggal tambah). Kecap ini cara makan dengan sushinya beda-beda, tergantung sama jenis sushinya. Ada beberapa macam sushi. Saya ga hapal namanya tapi saya coba deskripsikan yah:
-Sushi dengan lembaran daging di atas (Di sushi tei namanya salmon sushi) Ini sushi yang ketika dimakan cukup dicocol bagian dagingnya (Bukan nasinya, karena nanti dikhawatirkan hancur dan rasanya gak kerasa *cenderung terasa kecapnya*) Bisa dimakan langsung dengan tangan/dicomot.
-Namanya biasanya Salmon Sushi Maki (Ini sushi yang dibungkus noro). Bisa dicocol dibagian mana aja, tapi inget. Jangan sampe bagian nasinya kena.Bisa dimakan langsung dengan tangan/dicomot.
-Ketiga ini menu yang suka ada di resto sushi, namanya sashimi. Sashimi ini dimakan HARUS pake sumpit! Kalo ga bisa pake sumpit, ga boleh makan sashimi (ga sopan).
5. Ada yang namanya acar jahe (kalo di sushi tei dia warna pink yah). Nah dia itu buat penetralisir rasa sushi kalo kita makan banyak macemnya. Dimakannya kalo kita mulai ganti macem sushi.
6. Yang saya bingung apa? WASABI! Some says kita bisa campur dengan kecap langsung. Tapi traditionally gak boleh. Ditambah beberapa sushi ga boleh pake wasabi (karena udah dikasi wasabi ama chefnya). Beberapa orang juga bilang, tinggal dicolekkan dikit wasabi ke sushi dan langsung dimakan (tapi saya ga paham mana sushi yang dikasi wasabi mana yang enggak, kalo ga salah sih si Salmon maki yang ga boleh)Karena ini lah, saya memutuskan untuk tidak menggunakan wasabi. Kenapa? Ga suka wasabi dan daripada salah? Tapi untuk sashimi, ini jelas kalo mau pake wasabi tinggal colekin dikit. Setelah itu cocol ke kecap.
7. Kalau sumpit ga dipake, jangan ditaruh di atas gelas. Ini ga sopan. Apalagi ditusukkan ke dalam nasi/makanan (ini menunjjukan rasa berkabung). Kalo ga dipake, taro di piring makan atau tempat saus. Make sure ujungngnya ga kena meja (khawatir kotor). Dan kalo udah selesai, masukan lagi sumpit ke wadahnya. Cukup setengah wadah dan gulung (ini tanda sumpitnya udah dipake.

8. Terakhir, piring kita harus bersih! Ga boleh nyisa. Karena itu artinya ga sopan (dianggap makanannya ga enak). Sampe telur salmon yang ada juga mesti bersih banget.

Lalu ucapkan Alhamdulillah selesai makan. Udah sih gitu aja, yang bikin bingung cuma wasabi. Hahaha.

Recommended Sushi Resto:

Buat saya sih, Sushi no. 1 di Bandung itu Sushi Tei, karena salmonnya ga anyir (saya memakan yang mentah juga kok). Range harga 9-200rb… Kalo mau irit sih pesen sushi dengan piring warna putih, biru dan kuning. Air nya ocha aja, ini gratis. HAHAHA.

Yang kedua Sushi Groove, dia punya semacam pizza sushi yang saya suka. Dia agak mahal sih dengan kualitas di bawah sushi tei.

Yang ketiga ini Sushi Teio, makan di sana nyante, karena konsepnya bukan Resto. Melainkan warung pinggir jalan. Range harga 9-30rb… Dia bisa kasih porsi besar (8potong) ato medium (6potong)

Thanks for Reading,

D

Bersajak=GALAU? ELO yang GALAU!

16 Nov

Ini yang dibilang para penulis tentang kegalauan, atau apa yang mereka lakukan waktu galau:

Sajaksajak/prosa di blog bukan semata2 krn galau. Kalo galau beneran saya biasa salto *benerin poni* @iedateddy

yang jelas sih yg blg kita orang bersajak itu krn galau/jatuh cinta sesama akun, itu mah cetek pola pikirnya. coba digali lagi @raypiero

Oke, jujur saya tulis ini karena saya irritated sama beberapa orang yang bilang bahwa bersajak dalam social media itu galau (entah di akun twitter saya @MahadewiShaleh atau akun lainnya). Yang saya ragukan adalah yakin kita para pembuat sajak pendek ini yang galau? Atau mereka seenaknya aja bilang kita galau? Atau bahkan sebenernya mereka yang galau?

 

Yah entah deh sebenernya yang mana yang bener. Karena kalau mau jujur, KITA (para penulis sajak pendek ini) GAK NULIS SAJAK KARENA GALAU SEMATA!!! Kita cuma memanfaatkan apa yang kita punya dan itu gratis! Gak semua yang namanya sajak itu mesti dibukukan, toh pada dari sejak zaman Nabi Adam ampe sekarang pun yang namanya sajak ga mesti ditulis di buku terus lo namain BUKU SAJAK baru namanya sajak. Emang kita ga selalu melabeli apa yang mereka bilang “lagi nge-galau” itu sebagai sajak. Tapi yah mbok dipikir dulu. Lagian rugi kali kalo kita lagi bersajak dan tiba-tiba dikatain galau.

Nah jujur, saya pernah ngalamin ini sekitar satu tahun yang lalu deh yah. Waktu itu saya post di akun FB saya Mahadewi S. Shaleh Chandradiredja, sebuah puisi, tapi dasar karena yang namanya males masukin note, saya tulis di status. Yang bikin heran, yang namanya status itu “SHARE” jadi anggapan saya sih normal, bahwa saya cuma mau SHARING puisi. Eh beberapa menit kemudian, chat, pesan dan komentarnya penuh sama kata-kata “Kamu kenapa?” (ini sih jujur masih mending…masih bisa dijawab “Gapapa say, cuma pengen nulis.”) Nah yang parah, kalo udah ada yang dengan belagunya dia bilang…”Lo galau!!!” (yang saya biarkan saja karena saya males urusan sama orang kaya gitu.) Dan jujur, puisi ini sudah di published di media surat kabar terbesar di Jawa Barat. Itu artinya, jelas sejelas-jelasnya jelas, bahwa itu bukan status galau, tapi SAJAK atau PUISI!

Secara hakikat dan asal-usul bahasa, as quoted from Saussure, “Language constructed our world.” Yep, BENER banget!!! Emang… Tapi gak semata-mata saya bikin puisi sedih terus saya sedih beneran, gak semata-mata saya bikin puisi jatuh cinta sampe terbentuk imaji gue jatuh cinta itu beneran gue jatuh cinta! Somehow, itu emang berasal dari kita, tapi bisa pada saat yang lampau, bisa juga dari apa yang kita lihat, bisa jadi itu juga adalah apa yang kita dapet dari orang lain.

Pada dasarnya orang punya banyak alasan menulis, salah satunya bisa jadi lo lagi galau. Iya emang bener, tapi kaya apa tulisan orang galau??

Ini tulisan orang galau:

Gue benci ama lo! Lo menuhin news feed gue, timeline gue sama kata-kata ga penting! Sama tweet lebay dan status alay!

Ini versi orang bersajak:

Tuhan, betapa sempit dunia ini. Lini masa ku tak berputar dengan baik. Dia memenuhinya dengan sejumput kata-kata hambar tanpa makna.

SEE!!! Lo liat bedanya kagak?? Gak liat??

Aku buatin lagi…. Ini versi galau:

Apa salah saya, saya kangen dia, tapi dia gak kangen aku. Ya sudah, aku akan tetep kangen kamu kok.

Ini lagi bersajak:

Rinduku tak berbalas, bagaikan mentari dikejauhan merindukan bumi. Walaupun tertutup awan, rinduku akan tetap bersinar.

Masih ga ngerti? Lo skip deh contoh-contoh itu terus email saya mahadewishaleh@gmail.com

Emang menulis itu asyik sodara-sodara… Menulis itu bisa menenangkan jiwa, karena bisa jadi penyalur emosi yang baik. Hard to show it, Write it down! Emang bener kan kan kan kan…!!! Faktanya yah begitu, masi banyak alasan lain, my dearest readers. Kita menulis karena kita berbagi (apapun yang kita punya, dalam hal ini pengalaman dan perasaan). Menulis adalah ajang menghibur diri, gak heran ini adalah hobby orang kebanyakan, modalnya pun paling mahal cuma listrik dan koneksi internet (lainnya, pena dan selembar kertas). Menulis itu membuat kita dikenal banyak orang. Dan ini yang terakhir, tujuan terakhir menulis adalah DAPET DUIT!

Nah see??? Mohon dipahami baik-baik. Perlu banyak teori untuk mengatakan bahwa seseorang sedang galau atau tidak ketika menulis, dan itu melelahkan. Dan kenapa kita harus menciptakan atmosphere keburukan dengan mencap orang galau? Padahal kita bisa menikmati sajak-sajak pendek itu? Iya kan kan kan??

Many thanks (for reading this piece of writing).

See you again when I write… 🙂 🙂 🙂 🙂

PS: Maaf, buat yang dicantumkan akun twitternya di atas, saya terinspirasi oleh kalian dan lupa minta izin *siap-siap terkenal… kikikiki :P*

Rindu Tak Berkesudahan

7 Nov

Rindu ini tak berkesudahan
Rindu tak berkesudahan pada nyala lilin hangat 8 tahun yang lalu…

Rindu tak berkesudahan tak mengenal rasa hilang…

Rindu yang ditiap malam-malamnya menjelma menjadi cinta…

Rindu tak berkesudahan padamu…sahabatku… Cinta pertamaku….