Archive | Cuap-cuap Kata RSS feed for this section

The History of Whoo Review (dan Curcol) :)

21 Feb

Bulan Oktober-Desember lalu, tepatnya aku kembali menjadi mahluk nocturnal. Ini bukan sekadar begadang, tapi bener-bener insomnia. Dan kalaupun tidur Cuma sebentar, paling lama 4 jam. I can’t sleep like babies? No, I can’t sleep at all. Akibatnya? Banyak, selain kesehatan yang menurun keadaan kulitpun drastis turun. Mulai muncul jerawat, pori-pori membesar, keriput tipis muncul, kusam, dan yang paling parah, adalah eye bags, puffy eyes, dark circle *nangis guling-guling*. Sekitar bulan Januari aku mulai sadar, it can be worse, or worst. So I am starting to change everything, termasuk berusaha keras menghilangkan beberapa penyebab insomnia itu. I have to confess, it is hard.

Selain membenahi diri, akupun mulai membenahi skincare. Kenapa? Karena udah ga kuat lagi skincare lama ngehandle masalah kulitku. Dulu aku pake Hada Labo, produk ini made in Japan. Super mild, my holy grail of skincare, tapi pada saat itu ini gak bisa dipake karena membuat kondisi wajah memburuk. Make Up ku dengan komposisi yang sama (kek biasanya) biasanya tahan sampe 7 jam, eh tiba-tiba cuma kuat sampe 3 jam. Dan ini semacam mimpi buruk , kulit yang asalnya normal to dry menjadi oily. Mau re-touch ga mungkin, soalnya bakal bikin jelek. Pilihannya cuma 2, make up ulang dr awal atau hapus make up (which means gak pake make up). Dan aku memilih yang ke 2.

Jauh sebelum masalah ini terjadi aku udah denger tentang brand skincare dari Korea yang dikategorikan Hi-Class dengan review dan rave yang tinggi. Merk-merk itu diantaranya adalah Sulwhasoo, The History of Whoo dan lain-lain sebagainya. Tapi aku gak tertarik, mahal. Candaan aku pada saat itu adalah, “Beli skincare kek beli BlackBerry (untuk fullsize, apalagi 1 rangkaian penuhnya, kekna bisa beli motor).”. Bahkan untuk samplenya aja mahal. Pada saat itu nemu yang jual sample nya 15rb sebiji (1ml) dengan pasti aku mundur perlahan *kopet  si kopet huahahah*.

Dan dimulai dari Desember sampe pertengahan January, karena “butuh” aku mulai searching, mempelajari lebih lama dan dalam tentang si The History of Whoo dan Sulwaasoo dari para beauty bloggers dan kawan-kawan di FemaleDaily.com. Review si The History of Whoo ini lebih banyak dari Sulwhasoo *entah aku gak nemu, hahaha :P*. Kemudian aku mulai condong untuk mempelajari The History of Whoo. The History of Whoo ini line nya segudang, tapi aku menyesuaikan dengan kebutuhan dan umur. Beberapa produk The History of Whoo punya range tertentu buat usia pengguna. Aku langsung ambil perawatan untuk perempuan umur 17 tahun *yeaa aku 17, hehehe, I am 24* dengan keadaan kulit yang kusam. And I found Gongjinhyang: Seol Line dari The History of Whoo.

Beberapa review mengatakan bahwa kulit akan mengalami  masa purging. Purging, from what I understand, adalah masa di mana kulit melakukan penyesuaian pada suatu bahan kimia (alamiah ataupun bukan) yang diaplikasikan dan membersihkan muka dari dalam. Beberapa skincare (krim-krim ga jelas biasanya melakukan ini, cek fan page ini) dgn menahan jerawat keluar dari pori-pori, atau menutup komedo, tapi The History of Whoo melakukan hal yang berbeda. Dengan basicnya yang merupakan ramuan herbal The History of Whoo mengeluarkan semua kotoran dari dalam kulit. Ada beberapa yang mengalami purging ada beberapa yang tidak. Dan aku berharap tidak mengalaminya.

Setelah selesai mempelajari produk ini aku mencari seller yang menjual dengan harga yang “bersaing”, bukan overpriced seperti yang aku temui di awal-awal. And then aku nemu dengan harga yang murah gak jauh-jauh, nemunya di FB (PM untuk mengetahui seller yang dimaksud). Ada satu seller yg saking murahnya, rebutan. Dan aku ga kebagian. HAUAHAHUAHAHA *sad face sambil nyengir*. Nyari lagi deh, kemudian nemu tapi ga komplit. Yang pertama aku dapet dari sekian panjang Gongjinhyang: Seol Line adalah whitening lotion. Bukan tanpa sebab musabab *tsah elah* ada 2 alasan kenapa aku pilih untuk beli lotion saja, 1. Lotion adalah pelembab yang ringan, apalagi untuk kulit oily, 2. Lotion dipakai single use agar kulit adaptasi dulu dan gak purging parah. Selain lotion aku beli juga eye cream Hwa Hyun. Kenapa pilih eye cream ini? Well, jujur, varian lainnya keabisan K . Sample The History of Whoo jarang ada seller yang stock banyak, kebanyakan pada buka PO. Jadinya barang dibeli terpisah, satu di sana satu di sini. Hehehe.

Whoo Haul, Yaaaaayyy!

Whoo Haul, Yaaaaayyy!

Setelah dipake selama sekitar 1 minggu lebih, gak ada masalah, kulit mulai cerah (cerah bukan putih loh ya xD) dan halus. Mata? Puffy  eyes nya berkurang, dark circle masih ada. Setelah kulit gak ada masalah aku memutuskan untuk menambah lagi “kadar” Gongjinhyang: Seol Line dari The History of Whoo ini. Mulai dari whitening essence dan whitening balancer water. Dua hari oke, 3 hari oke, 4 hari nightmare mulai, purging di jidat (untungnya ini bukan spot yang bisa keliatan, dan diekspose). Purgingnya lama, hampir 3minggu. Jerawat besar-besar dan sakit banget. Tangan gatel pencet-pencet dan karena dah kelamaan ga pecah-pecah ini jerawat, aku pecahin (jangan ditiru). Di minggu ketiga ini purging (hampir sebulan pemakaian) aku tambahin lagi “kadar” Gongjinhyang: Seol Line ini. Aku tambah Whitening and Moisturizing Cream dan Whitening Intensive. Magically, bekas purging alias jerawat yang baru aku pencet ini kering. Dan purging berhenti. Bahagia purging berhenti, beberapa hari kemudian aku langsung pake Brightening Gel dan Essential Massage Mask. Kenapa pake essential massage mask kan harusnya pake si Peel Off? Lagi-lagi aku kehabisan, sementara dari yang aku tau, kulit setelah di peel atau discrub itu agak sedikit “panas” makanya harus didinginkan pake masker. Then, sebenernya aku merasa beruntung beli masker ini. Enak banget dikulit! Sampe sekarang, review ini ditulis itulah produk dari The History of Whoo yang jadi “adonan special sampe kulit ku jadi seperti sekarang. Dengan total penggunaan The History of Whoo selama 40 hari.

That is the curcol and here it come the review. Review ini akan merupakan review keseluruhan pada kulitku (review The History of Whoo Gongjinhyang: Seol satu persatu bisa di lihat di sini).
Dikulitku, as you can see in the picture (no editing at all, pure dari kamera, sila di zoom),

Gradual changes, please zoom

Gradual changes, please zoom

The History of Whoo Gongjinhyang: Seol Line ini memberikan hasil yang cukup memuaskan dalam waktu 40 hari saja. Kalau dilihat foto atas (before) cahayanya lebih banyak, tapi foto bawah (after) warna kulitnya lebih putih. Itu terjadi karena minyak berlebih memantulkan cahaya (eaaaa). Pori-pori jika dibandingkan mengecil dan di daerah hidung tampak lebih bersih. Ini menggembirakan. Di daerah mata, fine line dan kerutan berkurang, terutama kedalamannya. Dark circle dan eyes bagnya pun begitu (sipiriliiiiiii senang). I have to be fully honest bahwa perubahan kulit ini sifatnya pelan-pelan banget. Jadi kalo kita ngaca tiap hari ga keliatan. Aku aja jujur liatnya dari foto, kalo ga liat foto gak akan nyadar perubahannya. And ya, masalah kulit oily ku udah ilang, dan entah kenapa line ini bikin kulit kering apalagi pas abis pake peel off.

From now on, aku bakal telatenin produk ini. Mungkin kalo buat beli fullsize masih mencekik yah, so aku akan bertahan dengan sample ini sampe habis dan berpindah ke travel size. J Repurchase? Indeed. Rating? Jelas lima bintang, tapi tenang aja, The History of Whoo ini bakal aku update sampe 3 bulan pemakaian.

Penjelasan singkat tentang step dan produk (ditulis berdasarkan urutan pemakaian ihihi). Akan tetapi ada hal yang menarik dari Whoo, bau produknya. Kalo ga herbal ya floral. Harap tahan baunya, it worth the result kok. Ini dia penjelasannya:

My Whoo Skin Care Routine

My Whoo Skin Care Routine

  1. Brightening Gel: mengandung vitamin yang membantu mengangkat sel kulit mati, abis pake ini muka berasa kenceng dan kering tapi ternyata enggak kering. Baunya condong floral.
  2. Essential Massage Mask: Ini adalah masker traditional korea yang membantu mengembalikkan keremajaan kulit dan menjaganya. Setelah pake masker ini kulit jadi halus . Pada saat dipake ada sensasi hangat yang konon katanya membuat sirkulasi darah lebih lancer dan membuat lebih sehat. I feel it. Baunya enak, manis. Hehehe.
  3. Whitening Skin Balancer: meningkatkan efektivitas produk perawatan kulit yang digunakan berikutnya. Abis pake ini kulit jadi lebih seger dan halus. Ini herbal baunya tapi gak strong.
  4. Whitening Essence: untuk mencegah bintik-bintik hitam, flek dan membuat kulit anda putih. Efek setelah pake essence adalah somehow terasa lebih oily. Tapi setelah di massage enak dan bikin halus. Baunya bau floral.
  5. Whitening Intensive: menghilangkan flek, bekas jerawat yang ada di muka. Ini baunya floral.
  6. Hwa Hyun Eye Cream: cream ini klaim bahwa produk mampu meremajakan dan memutihkan kulit. Ini si produk beli terpaksa karena eye cream laen abis. Tapi aku ga nyesel pake ini. Ehehehe, ngepek banget. Baunya enak, floral.
  7. Whitening Lotion: membuat kulit putih dan segar. Ini ringan banget, cepet meresap dan bikin halus. Bahkan single use aja dan bikin halus. Ini bau herbalnya kuat banget, kalo gak kuat hih deh.
  8. Whitening and Moisture Cream: memberikan kelembapan lebih lama hingga ke dalam dan memutihkan.  Ini pelembab ringan gak bikin minyakan/mengkilap, suka. Ini floral enak.

Untuk warna hampir semua warnanya putih atau keputih-putihan kecuali essential massage mask yang warnanya coklat muda. Sedangkan teksturnya hampir semua creamy kecuali balancer yang cair dan whitening intensive yang mirip balm.

Sebelum dan sesudah memakai skin care di atas ada  urutan yang gak mungkin dilupakan dalam penggunaan produk whitening. Cleansing step dan protecting step. Well, untuk cleansing step aku pake ristra med soap dan untuk proteksi di bawah sinar matahari aku pake skin aqua .

Here are my tips for The History of Whoo first timer user:

  1. Sabar, Jangan keburu-buru, karena skincare alami butuh waktu. Cuma skincare antah berantah yang bisa melakukan perubahan dalam waktu cepat. Dan super sabarlah dalam menghadapi purging yang menggila. Tapi kayanya gak perlu waktu terlalu lama. 40hari cukup untuk melihat perubahannya.
  2. Cari apa yang dibutuhkan kulit kamu. Sesuaikan dengan jenis kulit.
  3. Telaten, jangan males. Apalagi untuk pengguna Gongjinhyang: Seol Line dari The History of Whoo, yang merupakan Skincare regime terpanjang dari The History of Whoo.
  4. Pakai satu-satu rangkaian ini sampe kulit kamu bener-bener bisa beradaptasi. Apalagi yang kulitnya sensitive. Hal ini selain meminimalisasi purging, pada saat terjadi gejala purging kita bakal tau siapa tersangkanya (mengutip dari femaledaily.com) ehehe.
  5. Jangan dipake tebal-tebal, tipis aja cukup yang penting kita telaten.
  6. Kasih jarak ketika kamu pake produk ini. Jangan asal templok. Apalagi menghadapi line seol yang puanjang puol ini. Hueeedehh deh.
  7. Massage kulitnya yah ketika mengaplikasikan Whoo. Bisa pake system shiatsu yang ada di blog stellalee.net atau pake system aku. Caranya ambil titik di hidung atau ditengah, dan tarik keluar  arah atas. Jangan di arah bawah. Khusus untuk mata, dari sudut mata dalam ke luar.

And have a try gals. Makasih buat semua review yang telah ada sebelumnya yah seperti joseibi.com dan femaledaily.com.

UPDATE:

So, banyak comment yang dibuat menanyakan “Di mana beli sample-sample ini dengan harga shikatmiring? *miring maksudnya* Aku kasih tau harga normalnya aja ya. Untuk sachet semua Whoo rangenya antara 4-6rb aja, di atas itu mending cari seller lain. Karena kemahalan. Kecuali untuk 3 cream special Whoo, The Secret Court, Repair Cream, All in One Cream, ini harganya bisa sampe 10rb. Untuk Jinaek Sachet bisa sampe 15rb.

Untuk sample bottle 5ml sekitar 10rb-an, kecuali Jinaek yang 5ml agak mahal sekitar 25rb-an hehehe.

Kalo lebih mahal dari itu, better cari olshop lain yang lebih murah. Gak ada? Belum ketemu mungkin ya. Aku sih biasa beli di Sample Corner di FB. Silakan tanya aja sama online shopnya ya. Klik aja di sana.

 

I am really rarely online here. Please contact me on my new site

MsMahadewi.com

Image

Just Some Important Things

29 Jan

I keep ’em, in my heart

Surat Cinta Untuk Senja

28 Jan

Tuan, pijakan mentari tak selalu pagi, peri-peri hutan kian menari di sudut mata, rindu.
Tuan, aku rindu alunan malammu, yang selalu kau sisipkan pada siku-siku mimpiku.
Pada nada liramu , Tuan, kau tahu bahwa pagi, lebih merindukan kata-kata berpulang pada syairnya.
Tidakkah kau rindu tuan, jari jemari kita merekatkan rindu dalam gigil malam, saat kau debarkan dadaku dengan ribuan bait dari syairmu.

Hear here.

*it is edited from my man short poems for me 😛 *

By clicking on the link above, you can hear me singing a song for him XD XD XD

Enjoy the mix mix mix blog 🙂

Happy reading,

D

Quote

Mi Diosa, Mi Ci…

16 Dec

Mi Diosa, Mi Cielo, pero hasta ahora lejos, no pueden ser el míos…

Sayangku, langitku, kau begitu jauh, tak dapat ku gapai.

One day I told my self,

“Pagi tanpa sore, adalah matahari yang tak pernah terbit. Mentari pupus di peraduannya.”

 

Kedai Ramen Bandung

25 Sep

I dooooo love ramen. And my favoritos is Shin Men Ramen :))

Semua orang mulai suka ramen dan kedai ramen pun menjamur di Bandung. Ramen basically is a Japanese noodle dish yang disajikan dengan kuah kaldu, dengan topping bermacam-macam dan bumbu shoyu atau miso *yummy…*

Nah, saking banyaknya restoran ramen di Bandung, bingung dong mau nyesuain isi dompet dengan “rasa” yang pas? Dan saking doyannya ramen, tiap ada restoran buka kedai ramen di Bandung, aku selalu, dan entah dibikin sempet bisa ke sana. Let’s start the “Ramen-ish Story Telling” 😛 (kemudian bingung mulai dari mana)

Jigoku Ramen

Jigoku ramen taken from @jigoku_ramen on Twitter

Ini yang paling murah, jujur bikin penasaran karena saking murahnya. Tempatnya di Jalan Pahlawan Bandung, enak kalau lagi kosong, kalau lagi penuh, beuh, mending lurus terus ke rumah pulang *sejalan sama jalur pulang, anaknya tipe pemalas nunggu tingkat dewa, hahaha*.  Saat itu pas ke sana ada tempat kosong, pas pesen di sebutin menu mereka udah pada mau abis, sisa cuma dikit, yo wes aku coba yang original deh  dan segelas minuman duren. Pas menu datang, minumnya dulu yang dateng, ebuseeettt gedeeee beneeeerrrrr dan segerrrr.  Sukaaa syekali.
Nah pas ramennya dateng, mangkoknya gak terlalu gede, ada toping naruto sayur, daging dan telur. Jujur nih kaget aja dengan harga IDR 6.000 bisa makan ramen komplit. Dan jeng jeng, telurnya dan potongan narutonya tipis bener. Kuahnya gak terlalu kerasa kaldu, dan gak kentel. Memang beberapa ramen di Jepang katanya punya beberapa macam kuah, tapi yang ini enggak kerasa kaldunya. (entah mungkin saya nya yang doyan makanan dengan rasa strong di kuah). (Ramen 6/10, minuman 8/10)

Mie Reman

Mie Reman, Taken from Bandungdiskon.com

Ini Mie Ramen Reman (di sebelah UNPAD DU dan ada cabang di Braga), kece namanya. Aku rasa ini karena dia pake pedes yang luar biasa banget kan. Dateng ke sana ama Putra and Rea, ngantriii dari jam 5 ampe ampir jam 6 bok! Parah banget, pas dan emang penuh. Kadang sampe parkiran orang-orang nungguin. Pas masuk, karena percobaan, aku cobain kuah shoyu as usual. Levelnya minta level 2 (karena lambung gak kuat pedes), Rea level 4, Putra level 3 dan 2 gelas es teh manis + 1 gelas nutrisari. Aku makan level 2 kan, se sendok oke, dua sendok siaga satu, tiga sendok emergency, AMPUUUNNNN pedeesss paraaaahhhhh, dan buat Rea dan Putra yang doyan pedes (mendarah daging itu mah, Acik dan Pakcik dari Padang) merekapun gak kuat. Kalau buat yang doyan pedes, seriously get you HOT culinary orgasm here. Buat yang gak suka pedes, yah bisa pesen yang biasa, cuma kan sayang gak dapet sensasi pedesnya di sini.  (Ramen 7/10)

Sumo Ramen

Ehm, ini tempatnya ada di Tubagus Ismail, depan Alfamart. Penasaran tempatnya karena baru hehehe. Tempatnya sempit, agak sedikit “penuh” buat aku. Ini wajar sih, soalnya dia menarapkan tipe restoran Ramen Bar, jadi kita bisa liat pembuatannya sekaligus. Rasa? Mendekati ramen di Resto lah sekitar 70%, lagi-lagi ini karena kuahnya buat saya encer. Kesana pesen minuman sama Ramen Shoyu *lupa nama, yang penting shoyu*. Dagingnya? Banyaaaaakkk…seneng bangettt liatnya, tapi pas digigit alottt.  Saya duduk di belakang dekat WC, sayangnya pas ke sana entah kenapa rada kotor lantainya dan baunya kurang enak *entah mungkin karena aku duduk di belakang kali yah jadi ke cium*.  (Ramen 7.5/10)

Kuma Ramen

From ceritaperut.blogspot.com

Waktu ditanya sama temen-temen, mereka banyak yang nyaranin aku buat dateng ke kedai Kuma Ramen (yang lain dapet iseng liat-liat review di Twitter dll). Sayangnya Kuma Ramen cuma buka sore-sore sampe malem, otomatis harus cari kawan-kawan. Pas ke sana sama genk ceweks-ceweks cantiks naek motor dari Setiabudhi ke Kuma Ramen (lupa alamatnya yang penting dia ada di belakang Gd. Sate dah). Pas ke sana, as usual, percobaan pertama selalu kuah shoyu ato miso. Dalam keadaan lapar, dan kedinginan kita pesen ramen (di sini kamu bakal di tanya mau makan ramen level berapa, kalo udah di atas level standard harus nambah biaya sekitar 1.000). Gak lama mesen, datenglah ramen pesenan, dan jeng jeng jeng, kuahnya dingin. Padahal kuahnya mendekati rasa autentik ramen Jepang (patokannya shinmen) tapi dingin pamiarsa, dan porsinya kecil dengan harga segitu (agak mahal kalo diitung-itung sama porsinya). Sorrrryyyyy. Dan mienya? Mie nya enakk, kenyal-kenyal gemes :). Kalo aja dia dateng dengan porsi besar dan ngebul, I mean panas, bukan hangat. Pasti enak banget. (Ramennya 8/10)

and the lasttttt

Ramen Cemen

Ramen Cemen from Detik.com

Lagi-lagi pengusaha kuliner di Bandung bisa banget ngasih nama hahaha. Ramen cemen ada di Jl. Wira Angun-angun. Tempatnya kalo malem agak nyempil. Yes, susah dicari. Kebetulan dese, si Ramen Cemen ini nge-hits dengan Ramen Iga Bakarnya. Tertarik dan langsung coba deh akunya. Di sini aku pesen kuah “Asin” dia bilang XO namanya. Ya udah lah, yang penting kuah asin. Nunggu gak lama, dan pas ramen iga bakarnya dateng, asapnya mengebu-gebu! Masih panas-panasnya, di coba kuahnya enyakkkk (Rasanya hampir mirip shinmen kalo di kasih kecap asin agak banyak, serius. Dan harganya kalo di Shinmen 50 rb, di sini 20rb ramen+Iga Bakar. You couldn’t ask for better one. HHAHAHHA). Iganya? Enak, empuk, sayang gak bisa digigit langsung harus dipotel (gosok-gosok dental braces). Mienya enak. Kuahnya? Enak codala-codalaa.. Kalo Shinmen saya kasih nilai 9.5/10. Ini saya kasih nilai 8.7/10.

Segitu aja reviewnya. Semua review makanan ini bergantung pada keberuntunganku, apa datang di saat yang pas ato enggak. Sepertinya kalo semua dalam kondisi yang sama akan sama enaknya. Hehehe. Selain itu lidah dan selera kita juga beda toh? Hehehe. Semoga membantuuuuuu kamu yang cari info mengenai urusan perut!

D

Isi Blog Ini Apa? Nano-nano XD

17 Sep

Yap, isi blog ini apa? Ada poems, literary kontent, linguistic overview, society perspective and so on and so so so on. Kebanyakan jenisnya, bingung kategorinya. Mau bikin blog baru dengan content berbeda-beda nanti susah nge-manage.

 

So I decided, I’ll let it flows. Yang penting nulis, nge-blog, informative menghibur dan kece.

 

 

 

Salam keren abis

 

 

D

 

 

*ditimpuk

 

Tom Yum @RumZatSimplisio

26 Jun

Tom Yum, siapa yang tidak mengenal makanan Thailand satu ini?

Tom Yum selama ini dikenal sebagai salah satu makanan yang dapat menguras kantong kita dalam-dalam. Tapi tak perlu khawatir, kita kini dapat menemukan makanan ini dengan harga yang murah dan rasa yang nggak murahan. Rumzat Simplisio yang terletak di Jalan Karapitan, Bandung, telah menciptakan trend terbaru makanan asal negeri Gajah Putih ini. Selain memberikan kuah khas Tom Yum yang otentik, signature dish di kedai ini memberikan sentuhan khas Indonesia pada makanan mereka. Jangan hanya berhenti mencicipi “Tom Yum khas Indonesia” Rumzat Simplisio, mereka tidak berhenti menciptakan inovasi kuliner di kedai ini. Terdapat banyak hidangan lain yang menggoda untuk dicicipi pun telah menyajikan pudding beku yang meleleh di mulut dan juga Risoles Duren dingin yang pastinya bakal bikin kamu ketagihan.
Untuk harga sebenarnya semenjak pindah ke Jalan Karapitan (dulunya di Jalan Ambon, ketauan pelanggan bahahaha…) ada kenaikan yang lumayan. Untungnya kenaikan harga ini diimbangi dengan penyesuaian porsi yang pas. I am still in love though. (Range harga Rp. 5.000-32.500,00 -exclude tax and service)

Jika kalian penyuka Tom Yum dan bingung akan menghabiskan akhir minggu, Bandung, dengan wisata shoppingnya yang terkenal dan Rumzat Simplison bisa menjadi pilihan yang pas.

Rumah Lezat Simplisio Twitter Account: @RumZatSimplisio

PS: (photo taken from Simplisio twitter account)