Archive | Essay RSS feed for this section

Sastra dan Semiotika-Kajian Intertextuality… When Literature Works Beyond…

29 Nov

Oke, semalam saya overheard alias nguping (hahahaha) pembicaraan dua orang kawan baru saya (sesama penyuka sajak @iedateddy dan @rizkytp ) di timeline saya. Mereka membicarakan tentang kesamaan dalam suatu karya sastra. Dan saya nyelonong dengan pede-nya bilang bahwa itu intertextuality. Dan sebagai pertanggung jawaban ceplosan saya, mesti dong menjelaskan apa itu intertextuality and both of them demand it (penasaran).

Sebenarnya, jujur dari hati yang terdalam saya pengen ngomongnya kemaren, tapi kemaren kepala dan badan udah ga sync sama sekali. So this is it, intertextuality.

Pemahaman ini jujur saya dapatkan dibangku perkuliahan…kelas semiotics and semiology, literary theories, dan cultural studies (yang dirasa sangaaaaaaaat kurang).  Saussure (seorang linguist ternama, ahli semiotics) menekankan adanya hubungan pada setiap simbol (simbol adalah segala sesuatu yang memiliki value, arti dan makna). Dan setiap simbol, secara sederhana akan saling mempengaruhi satu sama lain. Ini adalah dasar pemahaman intertextuality.

Di sini saya tidak akan berbicara panjang tentang structuralism, signified and signifiers. Karena jujur akan sangat rumit. Dan saya ingin menampilkan penjelasan yang sesederhana mungkin (yang saya pahami).

Saya mengartikan intertextuality, dalam artian sederhana adalah pembacaan text yang ditafsirkan oleh text lain. Dan ini menjadi dasar dari pernyataan “There is none original in this world.” Tidak ada yang namanya orisinalitas karena pada dasarnya segala sesuatu di pengaruhi satu sama lain. Seseorang bisa membuat sesuatu karena dia, sadar ataupun tidak sadar, dipengaruhi oleh hal lain ketika berinteraksi dengan dunia.

As quoted from Julia Kristeva,  “each word (text) is an intersection of words (texts) where at least one other word (text) can be read…any text is the absorption and transformation of another. The notion of intertextuality replaces that of intersubjectivity, and poetic language is read as at least double”-

Simbol, dalam hal ini kata, memiliki hubungan dengan minimal satu kata lainnya sehingga bisa dimengerti (berlaku untuk kata konotatif, denotatif dan lainnya). Kata memiliki sifat menyerap dan berubah sehingga membawa arti lainnya.

Hal ini pun memungkinkan sebuah text memiliki diksi yang sama. Text jika diartikan sebagai sesuatu yang dapat dibaca bisa dimaknai sebagai sejarah dan lainnya. Jadi intinya intertextuality adalah memahami arti dari kata dalam suatu kumpulan kata (text) dengan menyadur kepada text lainnya.

Saya buatkan contoh simple dari intertextualitas di sini (Ini yang paling saya ingat dan maaf pakai bahasa Inggris nih contohnya, ahahaha *gak mau ribet dot kom*:

 

 

The Negro Speaks of Rivers

 

I’ve known rivers:

I’ve known rivers ancient as the world and older than the

flow of human blood in human veins.

My soul has grown deep like the rivers.

I bathed in the Euphrates when dawns were young.

I built my hut near the Congo and it lulled me to sleep.

I looked upon the Nile and raised the pyramids above it.

I heard the singing of the Mississippi when Abe Lincoln

went down to New Orleans, and I’ve seen its muddy

bosom turn all golden in the sunset.

I’ve known rivers:

Ancient, dusky rivers.

My soul has grown deep like the rivers.

Saya tidak akan berbicara banyak. Hanya saja silakan intertextual dengan menggunakan bahan sejarah Amerika di abad 19-20… Dan anda akan memahami… Setiap kata yang saya bold memiliki intertextualitas juga… find it out and tell me… oke readers??
kalau ada hal lain yang mau ditanyakan atau ada yang mau menjawab intertextuality di atas kirimkan pesan anda ke mahadewishaleh@gmail.com

Many thanks readers….

See you when I write again
D