Archive | Literature RSS feed for this section

Mari Membaca Puisi dan Tips Pembacaan

20 Dec

Saya akui, udah ga baca sajak sejak kapan tau…hmm… 4 tahun yang lalu, itu juga baca sajaknya karena ada ujian mata kuliah Foundation of Literature, yang seingat saya Bu Kim (nama dosen yang baik banget, yang udah pensiun) bilang “You read it good, perfectly.” Hehehe *Bangga* *Wajib Bangga*.

The Sick Rose

BY WILLIAM BLAKE

O Rose, thou art sick!
The invisible worm
That flies in the night,
In the howling storm,
Has found out thy bed
Of crimson joy:
And his dark secret love
Does thy life destroy.
Kesalahan pada pembacaan puisi ini oleh beberapa kawan adalah karena ada storm dibaca keras seakan-akan marah. Padahal. ini puisi tentang kesedihan seorang wanita yang kegadisannya direnggut (pemahaman saya sih begitu).

Kemarin iseng sih Uda Esha Tegar Putra kirim voicenote yang membaca sajak… KEREN!!!

Nah sesudah dibacakan puisi oleh Uda, walaupun via voicenote, dia bilang “Bacakan untukku puisi, Kangen-Rendra.” Yah sudah, dengan hati ketar-ketir gara-gara minder (Dia bagus banget bacanya soalnya!) saya bacakan puisinya walau yah, walau Laahaula.

Baca Puisi itu gak gampang loh friends, sepeti yang saya kutip dari beberapa sumber bahwa banyak cara dan alasan kenapa kita membaca puisi, salah satunya adalah karena kesenangan, atau kepuasan diri 🙂

Well, saya akan rangkum beberapa panduan pembacaan puisi.

1. Lihat judulnya dan pikirkan kira-kira itu tentang apa.

2. BACA PUISINYA… Coba rasakan bagaimana puisi ini akan terdengar di telinga orang lain.

3. Mulai dengan apa yang anda tahu. Beberapa puisi akan sulit dipahami loh, rasanya dan bagaimana dia terdengar akan sangat sulit dimengerti. Saran saya, garis bawahi apa yang anda mengerti dengan highlighter atau marker, sesudah itu pakai warna yang berbeda dan garis bawahi juga apa yang tidak anda pahami.

4. Lalu cek pemahaman anda tentang puisi itu. Bisa berupa, kesan pembacaan, apa yang anda ingat dan apa yang anda pahami tentang puisi tersebut.

5. Selanjutnya (menarik ini, analysis puisi here we come 🙂 ) LIHAT POLA! Perhatikan pengulangan (repetisi) bahasa, citra, suara, warna, atau pengaturan. Tanyakan pada diri, apa yang penyair coba katakan melalui puisi tersebut. 🙂

6. Carilah perubahan nada, fokus, narator, struktur, suara, pola. Tanyakan: “Apa yang telah berubah? Hal ini mengubah apa di dalam puisi ini?”

7. Mengidentifikasi narator. Tanyakan: Siapa yang berbicara dalam puisi itu? Apa yang kau tahu tentang sang Narator?

8. Periksa lagi pemahaman anda. Ulangi pembacaan puisi (jika bisa, baca dengan keras) dari dari awal hingga akhir, lantas menggarisbawahi (lagi) bagian yang anda belum mengerti. Lantas coba jelaskan puisi itu pada diri sendiri atau orang lain.

9. Temukan saat-saat penting dalam puisi. Saat penting sekecil apapun yang ada dalam deretan syair. Seringkali beberapa kata seperti dalam sebuah puisi untuk puisi mengarahkan pembaca dalam arah baru. Perhatikan juga pemotongan stanza dalam puisi.

10. Pertimbangkan bentuk dan fungsi. Sekarang adalah saat yang tepat untuk melihat lebih kritis pilihan penyair. Apakah penyair menggunakan bentuk spesifik, seperti soneta? Bagaimana bentuk khusus — misalnya, sebuah soneta memungkinkan mereka untuk mengekspresikan puisi? Apakah beberapa penggunaan majas bahasa digunakan oleh penyair? Contohnya meliputi: enjambment,
assonance, aliterasi, simbol, metafora, atau sindiran. Contoh lain mungkin termasuk penggunaan  kapitalisasi yang tidak biasa, tanda baca (atau tanda baca yang dihilangkan), atau tipografi. Tanyakan. “Bagaimana penyair menggunakan tanda baca dalam puisi itu?”

11. Periksa untuk pemahaman yang lebih jauh. Baca puisi itu lagi keras jika memungkinkan. Kembali ke judul dan tanyalah dirimu tentang apa dan bagaimana puisi itu terkait dengan judul.

Tetap yang ditekankan dari tips di atas adalah pemahaman kita akan sebuah karya. Jadi bukan asal baca flat semua. Enggak kan? Hehehe

Sekian tips saya, saya juga masih belajar, kalau ada yang ditanyakan, sila kirim e-mail ke mahadewishaleh@gmail.com.

Rendra
Kangen

Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku

menghadapi kemerdekaan tanpa cinta

kau tak akan mengerti segala lukaku

kerna luka telah sembunyikan pisaunya.

Membayangkan wajahmu adalah siksa.

Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan.

Engkau telah menjadi racun bagi darahku.

Apabila aku dalam kangen dan sepi

itulah berarti

aku tungku tanpa api

Klik disini buat mendengarkan saya bersajak pendek.

Kalau ada yang mau request pembacaan sajak oleh saya, boleh banget… Itung-itung latihan :))

See you when I write again xoxo

D

Advertisements

LAPORAN KEPADA @pradewitch-Majelis Sastra Bandung: Pengajian Sastra ke-37

19 Dec

Baru beberapa minggu kemarin saya bertemu dengan kawan lama saya di Facebook Pradewi Tri Chatami (@pradewitch) di Twitter tentunya (setelah migrasi besar-besaran dari Facebook ke Twitter). Dan ini tak terlepas dari kontribusi Esha Tegar Putra (@esha_tegar) yang mempertemukan akun kita berdua (salim sama Uda Esha).

Saya sama TC (Pradewi Tri Chatami) sudah berteman lama di Facebook, dulu kita korban thread gila yang dibikin sama Lingga Kencana Oktaviansyah (@i_i_n_g) hahaha… Rencananya kita mau ketemu dari zaman firaun kapan tau entah tapi gak pernah jadi (karena saya sibuk dan TC jauh lebih sibuk). Pas ketemu di Twitter, kebetulan saya yang sedang “Mandul Karya” ini lagi butuh mood-booster buat nulis, saya tanya TC ada acara Majelis Sastra Bandung gak deket-deket ini? Kebetulan ada, dan ini acara bulanan yang sudah masuk minggu ke 37 (WOW… 3tahun lebih bookkkkk!!)…

Saya yang suka canggung (lebih tepatnya malu pas pertama) ngajakin bala bantuan buat “nemenin” kemudian saya ajak Mamang Agung Sudewo, Tyas Pradiptaning dan Gita Pratiwi(Gita gak dateng, Gita ketiduran, Gita tega… ) :P… Dan datanglah hari minggu…

Saya datang jam 1.30 di Gedung Indonesia Menggugat. Sama 3 Orang teman. Tapi gak ada yang berani masuk… (ngarerakeun kabeh, termasuk uing hahaha) Dan TC pun masih lama da di jalan keneh –”

 

Ini pertemuan pertama saya dengan TC, perdana! Suaranya sih imut, orangnya juga imut, cuma konten pembicaraannya yang gak imut. HIAHAHAHA

Pas dateng masuk disambut oleh beberapa orang dan jajaran buku-buku. Dan dapet Run down acara.

Rundown Acara MSB ke-37

Liat Run Downnya cuma bisa WOW dan WOW… Orang-orang keren semua dan cuma beberapa yang saya kenal…

Jujur, saya kira cuma diskusi dan baca puisi konvensional yang akan saya temui. Tapi oh tapi………pembacaannya keren pisan… Gak jauh beda sama yang ada di DKJ!!! Pas dibuka pertama saya gak ada (di luar nungguin TC), pas masuk tau-tau ada asep dan musik dan segala-galanya dan lilin dan WOW KEREN!!!

Yang dateng, jujur gak banyak banget, kurang dari seratus orang kalo itungan kasar saya. Tapi acaranya keren.

 

Ngan, tetep saya sama TC dan Agung kalahkah heureuy diawalnya. Lantas saya sibuk liat yang tampil(sambil pake respiratory mask karena asap rokok), Agung sibuk ngebluetooth lagu, TC sibuk udar-ider. HAHAHA… Di dalem cuma beberapa orang yang saya kenal, serius… Itu jujur menyebalkan… Tapi TC dengan sabar memperkenalkan saya dengan nama “Ini Dewi, Mahadewi.” Saya akui orang-orang yang dikenalkan TC sama saya bilang “Oh.” (tanda tahu, tapi ragu) cuma satu orang yang benar-benar tidak kenal saya.

 

Begitulah laporan ini saya buat, semoga berterima dengan baik. Dan sampai jumpa lagi yah kawan-kawan sastrawan, penulis, dan pemimpi!!!!!!!

SALAM SASTRA

 

D

Sastra dan Semiotika-Kajian Intertextuality… When Literature Works Beyond…

29 Nov

Oke, semalam saya overheard alias nguping (hahahaha) pembicaraan dua orang kawan baru saya (sesama penyuka sajak @iedateddy dan @rizkytp ) di timeline saya. Mereka membicarakan tentang kesamaan dalam suatu karya sastra. Dan saya nyelonong dengan pede-nya bilang bahwa itu intertextuality. Dan sebagai pertanggung jawaban ceplosan saya, mesti dong menjelaskan apa itu intertextuality and both of them demand it (penasaran).

Sebenarnya, jujur dari hati yang terdalam saya pengen ngomongnya kemaren, tapi kemaren kepala dan badan udah ga sync sama sekali. So this is it, intertextuality.

Pemahaman ini jujur saya dapatkan dibangku perkuliahan…kelas semiotics and semiology, literary theories, dan cultural studies (yang dirasa sangaaaaaaaat kurang).  Saussure (seorang linguist ternama, ahli semiotics) menekankan adanya hubungan pada setiap simbol (simbol adalah segala sesuatu yang memiliki value, arti dan makna). Dan setiap simbol, secara sederhana akan saling mempengaruhi satu sama lain. Ini adalah dasar pemahaman intertextuality.

Di sini saya tidak akan berbicara panjang tentang structuralism, signified and signifiers. Karena jujur akan sangat rumit. Dan saya ingin menampilkan penjelasan yang sesederhana mungkin (yang saya pahami).

Saya mengartikan intertextuality, dalam artian sederhana adalah pembacaan text yang ditafsirkan oleh text lain. Dan ini menjadi dasar dari pernyataan “There is none original in this world.” Tidak ada yang namanya orisinalitas karena pada dasarnya segala sesuatu di pengaruhi satu sama lain. Seseorang bisa membuat sesuatu karena dia, sadar ataupun tidak sadar, dipengaruhi oleh hal lain ketika berinteraksi dengan dunia.

As quoted from Julia Kristeva,  “each word (text) is an intersection of words (texts) where at least one other word (text) can be read…any text is the absorption and transformation of another. The notion of intertextuality replaces that of intersubjectivity, and poetic language is read as at least double”-

Simbol, dalam hal ini kata, memiliki hubungan dengan minimal satu kata lainnya sehingga bisa dimengerti (berlaku untuk kata konotatif, denotatif dan lainnya). Kata memiliki sifat menyerap dan berubah sehingga membawa arti lainnya.

Hal ini pun memungkinkan sebuah text memiliki diksi yang sama. Text jika diartikan sebagai sesuatu yang dapat dibaca bisa dimaknai sebagai sejarah dan lainnya. Jadi intinya intertextuality adalah memahami arti dari kata dalam suatu kumpulan kata (text) dengan menyadur kepada text lainnya.

Saya buatkan contoh simple dari intertextualitas di sini (Ini yang paling saya ingat dan maaf pakai bahasa Inggris nih contohnya, ahahaha *gak mau ribet dot kom*:

 

 

The Negro Speaks of Rivers

 

I’ve known rivers:

I’ve known rivers ancient as the world and older than the

flow of human blood in human veins.

My soul has grown deep like the rivers.

I bathed in the Euphrates when dawns were young.

I built my hut near the Congo and it lulled me to sleep.

I looked upon the Nile and raised the pyramids above it.

I heard the singing of the Mississippi when Abe Lincoln

went down to New Orleans, and I’ve seen its muddy

bosom turn all golden in the sunset.

I’ve known rivers:

Ancient, dusky rivers.

My soul has grown deep like the rivers.

Saya tidak akan berbicara banyak. Hanya saja silakan intertextual dengan menggunakan bahan sejarah Amerika di abad 19-20… Dan anda akan memahami… Setiap kata yang saya bold memiliki intertextualitas juga… find it out and tell me… oke readers??
kalau ada hal lain yang mau ditanyakan atau ada yang mau menjawab intertextuality di atas kirimkan pesan anda ke mahadewishaleh@gmail.com

Many thanks readers….

See you when I write again
D