Tag Archives: puisi

Kuilmu, Tuan

23 Mar

Kuilmu, bait sajak yang dikalahkan
masa lalu

Ketika daun meranggas dan ricik air
terdengar
Pepohonan berdiri berjajar tunduk
kepadamu ke arah matahari terbenam

Tidakkah kau dengar nada yang
mengalun?
Mantra nada yang dulu adalah candu
Rapalan-rapalan liar tepat di telingaku
Sentuhan-sentuhan jemarimu tepat di
pori-poriku

Ketika gelap membutakan
Aku, kulitku yang kau ambung
adalah minyak yang membakar api
dalam darah
Menuntun pada satu dan dua dan tiga
rasa bahagia,
Gelora seindah saga

“Ini penyucian,” kau bilang, “Sepasang
pendeta bersatu
mata, hidung, dan bibir mengecup
setiap jiwa.
Agar tak tersesat dalam gelap.
Agar ruh tak salah jalan.”

Barangkali, Tuan, kuilmu hanyalah
bangunan masa lalu
Sisa reruntuhan dan kolom-kolom
kosong,

Dulu, barangkali
Pilar-pilar tinggi yang kokoh itu tegak
tertanam dalam darah

Kuilmu, barangkali, adalah gubahan
puisi untukku
Tempat kau menanggalkan jubahmu
dihadapan kekasihmu

Posted from WordPress for Android

Dari #M

20 Mar

Untuk kau yang merindukanku di tepian sungai
Rindumu itu serupa bebatuan tajam di dasar sungai yang jernih
Dengan airnya yang dingin menusuk hingga ke sumsum tulang
Dan aku adalah penawar yang setia, menanti di tepian lainnya
Jika tanpaku adalah segalanya
Janganlah kau mati karena aku menunggu mu ditepian
Maaf jika cinta tak pernah adil untukmu
Karena aku mencintai rindu lebih besar dari keraguanmu untuk menyebrangi sungai, untuk bersamaku selamanya
Aku ingatkan, kau yang tak adil kali ini
Tak menjawab cintaku pada rindu sama besar
Jika setiap kali mengingatku malam menjelma menjadi ruang serba hitam dan aku adalah serigala yang berlarian dijantungmu
Temuilah aku di siang-siang harimu, karena aku tetap setia pada rindu tanpa cinta yang berkurang sedikitpun
Aku mendengarmu dan aku paham
Memang ini bukan kisah yang mudah bagi kita
Bagiku atau bagimu
Lekaslah datang sebelum aku menghilang di cakrawala
Aku terbang menuju cakrawala dengan air mata di pipi, berpamitan pada senja karena aku segera hilang
Kapan kau akan membangun rumah baru dalam sajakmu untukku?
Rumah tanpa pintu? Dan membiarkan rinduku pergi tanpa pamit dan datang tanpa permisi?
Rumah yang mengizinkan kita gaib masuk, kita gaib terkurung? Dan kita tak pernah keluar?
Di kota ku, malam dengan gerak angin tak menentu karena penghuninya disiksa rindu, malam berlalu kelam dengan mata terpejam dan hati yang dirajam rindu dengan kejam
Dengan mu setiap malam akan jadi malam minggu, setiap malam akan serupa kasmaran baru.
Tapi hatiku terpaut lelaki yang mencintaiku
Walau mantra rindu yang aku rapalkan tak kunjung didengarnya
Sudikah kiranya membiarkan hatiku menikmati rindu yang kejam? Sudikah kiranya kau menemaniku, tanpa pergi sedetikpun? Tanpa menoleh walau setarikan nafas?
Rindu pada dia yang tak kunjung padam
Walau aku telah lelah dirajam kejam
Tapi rindumu padaku masih serupa bebatuan tajam didasar sungai yang jernih
Dan aku, masih setia menunggumu ditepian.